Notification

×

Iklan

Iklan

Peluncuran Museum Digital Ammu Hawu Jadi Ruang Apresiasi, Temu dan Kolaborasi Para Pegiat Budaya Di Sabu Raijua

Senin, 14 Agustus 2023 | Agustus 14, 2023 WIB Last Updated 2023-08-14T13:24:10Z

Sarainews.Com-Sabu Raijua,-Pameran cerita rakyat dan Peluncuran Museum Digital Ammu Hawu  yang diselenggarakan oleh Yayasan Ammu Hawu Mandiri berkolaborasi dengan Komunitas Skolmus dan Komunitas Generasi Peduli Sesama (GP) Sabu Raijua, menjadi ruang apresiasi sekaligus ruang bertemu berbagai Pegiat Budaya yang bergiat di berbagai lini, mulai dari peserta didik, penulis, komunitas taman baca, pegiat budaya, para jurnalistik hingga media komunikasi pembangunan daerah.


Kegiatan yang diselenggarakan, Sabtu, 12 Agustus di Aula SMAN 2 Sabu Barat itu,  diawali dengan pameran mini dan pemutaran film dokumenter pendek kisah pelaku budaya asal Hawu Mehara yaitu Weo Ratu (penutur sejarah lisan dan penganut agama kepercayaan) dan Ice Tede Dara (penenun pelestari pewarnaan alami). 


Baik karya pameran, buku dan film memantik ruang diskusi pada guru dan peserta didik SMAN 2 Sabu Barat. Guru-guru SMAN 2 juga terpanggil untuk mengumpulkan kembali ingatan-ingatan dan pengetahuan di sekeliling untuk sama-sama menulis dan mendokumentasikan. 



Ruben Mangngi salah satu peserta yang secara khusus bertolak dari Kupang untuk menghadiri kegiatan ini juga menunjukkan koleksi buku dan kliping koran tentang budaya orang Sabu, yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun.


 “Saya sangat suka mengumpulkan dan membaca setiap kali ada orang yang menulis tentang budaya Sabu. Saya juga banyak mendengar dari dulu-dulu, tetapi hanya menyimpan di kepala. Oleh karena itu saya senang jika ada orang yang menulis,” jelasnya. 


Kepala SMAN 2 Sabu Barat , Bend Piter Lado mengapresiasi dan menyambut baik inisiatif Museum Ammu Hawu yang secara tidak langsung membantu tersedianya bahan ajar yang dapat dirujuk. 


“Selama ini kita kesulitan mencari cerita-cerita yang dituliskan dengan lengkap dan baik. Selalu kita menggunakan cerita dari luar padahal cerita-cerita asli Sabu memiliki unsur instrinsik dan ekstrinsik yang bagus untuk dipelajari,” uja Kepala Sekolah yang berlatar belakang Pendidikan Bahasa Indonesia itu


Jefrison Hariyanto Fernando sebagai sala satu Narasumber menyampaikan bahwa Dalam tradisi tutur cerita  orang Sabu Raijua terdapat empat jenis tuturan  yaitu Li Jawi yang adalah cerita perumpamaan atau dongeng, Li Pediri  uru yang merupakan cerita sejarah, Le Kebie atau penuturan silsilah, dan Li Rai atau tuturan suci. 


Lebih lanjut, Menurut ketua Komunitas GPS itu, Ke-empat jenis tuturan itu memiliki fungsi yang berbeda-beda dengan tantangan yang khas dalam proses pendokumentasian masing-masing tuturan. 


" Kita punya kekayaan budaya yang luar biasa, sala satunya Warisan Budaya Tak Benda atau WBTB seprti cerita rakyat yang didalamnya terdiri dari Dongeng atau Li jawi, lagenda atau cerita sejarah atau Li Pediri Uru, tutur Silsilah atau Li Kebie dan Li Rai atau tuturan suci" ungkap Pegiat Budaya dari Komunitas Generasi Peduli Sesama (GPS) Sabu Raijua itu


Hal berikutnya disampaikan oleh Leonardo L. Lay, seorang pegiat budaya yang saat ini sedang membukukan sejumlah cerita-cerita rakyat, dalam sesi cerita rakyat Li Jawi berjudul Lai Keru oleh Jhon Oraris Djami, siswa SMAN 2, berkesempatan membagikan pengalamannya dalam meramu berbagai cerita rakyat asal Sabu, terutama dalam hal ejaan. 


“Dalam Li Jawi ada banyak versi yang bisa saling melengkapi.”kata Leo



Leonardo juga menyatakan siap bekerja sama terutama dalam hal penyuntingan ejaan untuk tuturan-tuturan yang sedang di dokumentasikan. 


Hal senada juga diungkapkan Pelipus Libu Heo bahwa perbedaan versi dalam tuturan Li Jawi tidak dapat dihindari, namun yang terpenting adalah bagaimana nilai luhur dan kearifan dapat diceritakan dan didokumentasikan.


 “Pasti ada perbedaan dan banyak versi, namun itu bukan soal,” tuturnya.



Sementara itu, Jack Lawa Rohi yang memfasilitasi bidang kebudayaan di wilayah Sabu, Rote, Sumba dan Timor mengapresiasi inisiatif Museum Ammu Hawu dan berharap ke depannya museum dapat berkembang dari digital menjadi fisik. 


Jack menggarisbawahi pentingnya upaya pendukomentasian ini khususnya dalam kebutuhan memfasilitasi pendaftaran agama kepercayaan asli Sabu, Jingitiu. 


Dalam proses ini diperlukan banyak sumbangan dari proses pemdokumentasian dan penulisan, terutama untuk menuliskan sepenggal sejarah dan bahan ajar. 


“Di Sabu sekarang sedang dalam proses mendaftar. Jadi sangat butuh tulisan-tulisan untuk mendukung itu,” jelasnya.


 “Yang paling sulit, dan yang akan menjadi bahan buku ajar adalah Li Rai, mengenai kenapa ritual dilakukan dan kepada siapa dilakukan,” sambungnya.


 Hal ini langsung ditanggapi oleh Fransisco Jacob salah satu narasumber yang bersedia membagikan hasil penelitian dan koleksinya.


 Founder Museum Ammu Hawu, Lodimeda Kini, juga menekankan bahwa ia siap membantu dalam proses penulisan seluruh cerita rakyat Sabu Raijua 


“Karena menulis adalah bidang dan kekuatan kami, jadi kami siap untuk menjadi ‘ban belakang’ untuk membantu kerja-kerja budaya yang membutuhkan tulisan,” pungkas Lodimeda



Dalam akhir diskusi, banyak sekali peserta yang menginginkan agar pameran cerita rakyat seprti ini terus berlanjut sehingga pada kesempatan itu , itu langsung di respon oleh ketiga pemateri: Lodimeda Kini, Jefrison Hariyanto Fernando, Fransisco Jacob  bahwa pada bulan Oktober akan dilakukan pameran cerita rakyat jilid II sekaligus peluncuran buku yang berjudul Hegai Ama Heboro Appu.