Notification

×

Iklan

Iklan

Lorotolus kisah 5 September 2000 tidak akan mungkin dilupakan Oleh masyarakat Wanibesak

Minggu, 05 September 2021 | September 05, 2021 WIB Last Updated 2021-09-05T09:37:46Z


Sarainews-Kab Malaka,-Seperti apa yang di katakan Bung Karno "Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghormati Jasa Pahlawannya".

Hari ini 05 September 2021 mengingatkan kembali saya pada kejadian itu.

Kisah ini di Angkat dari Kisah Nyata  yang saya alami  21 tahun silam tepatnya tanggal 05/09/2000 waktu itu umur saya baru enam tahun lebih.  Saya menuliskan ini untuk kami kenang dan ceritakan kepada anak cucu agar tidak melupakan sejarah. Seperti apa yang dikatakan Soekarno "Jasmerah" Jangan Sesekali Melupakan Sejarah.

"Waktu itu umur saya enam tahun, tentu saja ingatan saya sudah kuat dan sampai saat ini saya masih ingat akan tragedi yang memilukan itu. Kejadian itu berawal dari beberapa rentetan persolan diantaranya:

1. Terjadinya pengeroyokan oleh Kelompok Preman "Laksaur" terhadap saudara Yusuf T di pasar Webriamat tepatnya hari selasa.

Saya di keroyok oleh kelompok itu tanpa akar persoalan ungkap saudara Yusuf T.

2. Selang beberapa bulan terjadi lagi pengeroyokan yang dilakukan oleh sekelompok preman yang sama terhadap saudara Alo di pasar harian Weoe tepatnya hari Senin sore.

Dari cerita singkat yang kami dapat dari saudara Alo Selakau korban kejadian naas itu beliau menceritakan kejadian tragis itu. Katanya "Setelah mereka pukul saya hingga babak belur, kaki dan tangan saya di ikat lalu di seret pakai mobil dari weoe sampai besikama untuk di rawat di Puskesmas besikama. 

"Waktu itu rambut saya agak panjang jadi bukannya mereka cukur tapi mereka kupas kulit kepala saya hingga habis. Tapi Tuhan dan Leluhur masih memberikan saya kesempatan untuk hidup lagi".

Dari rentetan kasus itu warga Kampung Wanibesak tidak terima perlakuan yg dilakukan terhadap saudara Alo.

Senin 04 Sepember 2020, Kira-kira pukul 17.00 sekelompok orang dari Kampung Wanibesak melakukan penyerangan di Rumah Saudra Olivio Mandonsa Manek di Kabukalaran. Waktu itu masa aksi penyerang mengira bahwa saudara Alo sudah meninggal dan jasadnya dibawa ke rumah Olivio. 

"Kami berjalan kaki dari kampung menuju Kabukalaran. Masing-masing kami jalan dari rumah adatnya. Kami jalan sesuai susunan formasi perang yang sudah diwariskan oleh nenek moyang bagi kita ungkap Saudara Ose (beliau sudah almarhum meninggal lima bulan yang lalu. Terima kasih salah satu pahlawan Kampung Wanibesak). 

Waktu itu Olivio tembak peringatan menggunakan pistol sebanyak tiga kali tapi kami tidak mundur selangkahpun kami tetap maju. Dari sisa peluru yang ada salah satu peluru menembus dada saudara saya (Alm. Jhon Leto yang gugur dalam penyerangan itu. Terima kasih pahlawan). Setelah itu kami pun langsung menyerang saudara Olivio hingga tewas. Ada juga beberapa anggota kelompok preman yang ada tapi mereka kabur saat itu. Kata Saudara Alm. Ose.

Olivio adalah Kepala Laksaur yang mengungsi dari Timor Timur saat Jajak Pendapat. Beliau sangat terkenal dengan pergerakan nya. Waktu mengungsi dari Timor Timur Beliau sempat membawa beberapa senjata api).

Kami kembali ke kampung membawa saudara Alm. Jhon Leto yang tertembak untuk mendapatkan penyelamatan alternatif di rumah adat (Uma kakaluk) tapi nyawa saudara Jhon tidak tertolong. Mungkin saja Tuhan dan Leluhur merencanakan yang terbaik untuk dikenang dan diceritakan kepada anak cucu sepanjang masa. 

"Bahwa memperjuangan nama kampung atau memperjuangkan tanah kelahiran itu tidak hanya sebatas keringat dan air mata yang dikorbankan. Tetapi nyawa sekalipun kita korbankan demi tanah kelahiran kita.

Selasa, 05 September 2000, tepat pukul 03.00 terjadi serangan balik di kampung Wanibesak yang dilakukan oleh kelompok Laksaur dengan menggunakan senjata api. Tentu saja serangan ini adalah pembalasanan atas dibunuhnya saudara Olivio."Ungkap Randi 

Waktu itu, kami dari beberapa suku yang ada di Wanibesak masing-masing kumpul di rumah adat yang sejak dulu kala kami yakini sebagai tempat perlindungan yang sakral bagi kami anak cucu.

Sekitar belasan mobil Pick Up menggunakan senjata api yang parkir di cabang, dari atas mobil mereka menembak rumah adat kami. 

Bunyi senjata itu bagaikan alarm yang tak beraturan membangunkan kami yang sementara lelap dalam tidur. "Waktu itu musim panas, saya tidur tidak pakai baju. Karena saking panik dan takut atas rentetan tembakan sejata itu saya dengan mama lari ke hutan untuk bersembunyi. 

Sebelum ke hutan saya bersama mama lihat seorang Kaka laki-laki namanya Elias atau Kaka Jhos (umur belasan tahun) yang sedang bersembunyi di balik pohon kapok menggunakan senjata mainan untuk menyerang musuh. Waktu itu saya masih ingat apa yang di katakan oleh saudara Elias sebagaia salah satu bentuk cinta tanah tumlah darah "berani simpan senjata"... Ini adalah kata-kata seorang patriot yang cinta tanah airnya. 

Tapi itulah cerita tragis dan memilukan yang saya alami langsung waktu itu. Tidak lama kemudian kami lanjut lari ke hutan dan melanjutkan perjalanan. Dan Demi mencari keselamatan nyawa masing-masing lari kehutan dan bahkan ada yang terpisah dari keluarganya.

"waktu itu Saya bersama mama, nenek dan adik-adik saya, keluar dari rumah adat yg sudah di lahap si jago merah, kami sekeluarga diiring ke jalan dengan todongan senjata dari belakang, mereka menyuruh kami untuk masuk kedalam mobil dan saya terpisah dari mama dan adik-adik yang lain, ternyata isi dalam truk itu ada jenazah ''Olivio". 

Selang beberapa menit kami di suruh turun dari mobil masing-masing untuk selamatkan diri ke hutan( kebetulan ada alm. saudara Kehi Lakateu, orang tua murid dari bapa dan mama waktu di Fohorem-Tiles) yang masih ingat sama mama di pagi buta itu, jdi kami sekeluarga selamat dari kejadian ini.

Demi mempertahankan tanah yang membesarkan kami, ada sejumlah orang tua dan pemuda melakukan aksi baku serang namun sayang sekali senjata api berhasil mengalahkan pedang (Kelewang) yang digunakan untuk menyerang musuh. Sehingga ada empat orang yang menjadi korban dalam kejadian 05 September 2000. Diantaranya Saudara Kundus,Saudara Jhony,Bai Lotu, dan Ama Fukun. 

Sedangkan kami yang selamat dari rentetan senjata itu lari kehutan dan berhasil mengungsi di kampung tetangga TTS yang jauhnya kurang lebih 20an KM.

Sementara itu harta benda seperti emas dan barang-barang sakral dari rumah adat berhasil di bawa oleh kelompok penyerang itu.

Kira-kira pukul 08.00 di suatu kampung tetangga namanya Ayotupas Kabupaten TTS. Kabupaten yang berbatasan dengan kabupaten Belu kala itu. Disana kami mendapatkan tempat perlindungan dari bapak-bapak tentara yang ada di Koramil setempat. 

Diselimuti rasa takut dan sedih atas kehilangan rumah dan nyawa beberapa orang yang begitu istimewa kami mendapat penguatan dari pihak kemanan (terima kasih Ayotupas dan terima kasih pak Tentara).

Selang setengah hari di Ayotupas akhirnya kami di evakuasi ke Paroki Putain. 

Kami mendapat perlindungan penuh kasih selama kurang lebih dua Minggu. 

Segala macam suka dan duka  kami lalui dengan hati yang begitu luka. Tidak ada kata lain selain terima kasih yang tak terhingga untuk warga setempat yang dengan segala macam kekurangan dan kelebihan berbagi kasih dengan kami waktu itu. 

Terima kasih sekali lagi untuk Bapak pastor Paroki Putain Yang sudah menyediakan camp pengungsian untuk kami tinggal sementara.

Kurang lebih dua Minggu kisah kasih warga setempat dengan kamipun berakhir di Paroki Putain. Kenangan manis harus berakhir di sana dan saatnya kami kembali ke kampung yg dimana darah kami ditumpahkan. Kami kembali dengan susasana hati yang sedih karena rumah-rumah kami hanya tinggal abu dan tak satu puing pun tersisa dari lahapan si jago merah.

Suasana hati yang begitu keruh mengajarkan kami untuk harus menerima suatu kenyataan tanpa harus membalas dendam.

Kami pun memulai suatu kehidupan yang baru bersama TNI yang ditugaskan untuk menjaga kemanan dikampung kami selama kurang lebih empat tahun. Terima kasih Para TNI yang sudah jaga kami kurang lebih 4 Tahun waktu itu.

Kini satu demi satu Kami mulai membangun kembali rumah-rumah adat yang dilahap si jago merah saat tragedi yang memilukan itu hingga saat ini semuanya sudah selesai."Tutup Randi Bere

La Iha Ema seluk, La Iha Ema Matak. 

Ita Ida Deit Timor Oan Rai Mea Oan