Notification

×

Iklan

Iklan

GEMPRODEM Kupang Gelar Aksi Gerakan Mahasiswa Peduli Sampah

Rabu, 22 Februari 2023 | Februari 22, 2023 WIB Last Updated 2023-02-22T09:01:08Z

Sarainews.Com-Kupang,- Dalam memperingati hari peduli sampah nasional, Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi Ende Lio (Gemprodem E.L Kupang ) Menggelar aksi Gerakan Mahasiswa Peduli Sampah. 

 Hari Peduli Sampah Nasional mulai diperingati setiap 21 Februari . Hari Peduli Sampah nasional dilatar belakangi dengan adanya  Peristiwa longsornya sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005. Dalam peristiwa tersebut, terjadi ledakan keras yang diikuti longsornya gunungan sampah TPA Leuwigajah dengan ketinggian 60 meter.Peristiwa longsornya sampah di TPA Leuwigajah terjadi diduga karena adanya guyuran hujan deras semalam suntuk hingga membuat tumpukan sampah sepanjang 200 meter dan tinggi 60 meter itu goyah.Selain itu, ledakan gas metana dari dalam tumpukan sampah juga menyebabkan munculnya suara ledakan hingga menyebabkan longsor yang menyapu dua pemukiman warga.

Longsoran sampah yang terjadi sekitar pukul 02.00 WIB itu setidaknya mengakibatkan sebanyak 157 orang tewas. 

Penetapan Hari Peduli Sampah Nasional ditetapkan berdasarkan waktu terjadinya peristiwa tersebut, diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat dalam pengelolaan sampah dan meminimalisir agar tragedi serupa tidak akan terjadi lagi.



Kegiatan Gerakan  Mahasiswa Peduli sampah selesai dilaksanakan  Pada Selasa, 21 Februari 2023 di sekitaran pesisir pantai Batu Nona Kota Kupang pukul 17.00 WITA . Kegiatan tersebut dihadiri oleh anggota Gemprodem E.L Kupang.  Adapun Tujuan Kegiatan tersebut menurut  Vera Koordinator kegiatan  bahwa terdapat 2 poin yang pertama adalah "untuk meningkatkan Kepeduliah mahasiswa Terhadap lingkungan sekitar, kedua adalah penyampaian Pesan  terhadap masyarakat untuk bahu membahu dalam mewujudkan kebersihan lingkungan.  Tentunya kita semua mendambakan lingkungan yang bersih sehingga kita lebih sehat dan semangat dalam menjalankan aktifitas sehari-hari."


Plastik merupakan material bendawi berbahan polimer sintesis yang  dibuat melalui proses polimerisasi. Penggunaan plastik terus berkembang  sejak tahun 1950 ketika plastik mulai diproduksi secara besar-besaran. Jumlahnya yang sangat banyak serta membutuhkan waktu 60-70 tahun  untuk terdegradasi mampu menyebabkan kerusakan ekosistem yang  sangat serius. Menurut penelitian Moore pada tahun 2008, sekitar 60-80%  sampah laut merupakan sampah plastik. Sementara itu di Indonesia,  menurut Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) setiap tahunnya  Indonesia membuang sebanyak 1,29 juta ton sampah plastikke sungai yang  bermuara di lautan.  

 Dampak langsung dari sampah plastik yang mencemari laut adalah  banyaknya kasus dimana banyak organisme laut yang mati akibat menelan  sampah plastik. Hal ini terbukti dimana pada tahun 2018, ditemukan banyak  sampah plastik didalam organ tubuh organisme laut, sepeti bangkai penyu,  paus sperma, serta banyak organisme lainnya yang organ tubuhnya sudah  tercemar sampah plastik. Sebagai contoh, seekor paus sperma berusia 10  tahun ditemukan mati terdampar di Pantai Luskentyre, Pulau Harris yang  terletak di barat laut Kepulauan Barat di Skotlandia pada Kamis, 28  November 2019. Scottish Marine Animal Strandings Scheme (SMASS) melakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian paus tersebut.  Hasilnya sangat mengejutkan, karena ditemukan banyak sampah plastik  yang tersembur keluar ketika perut samping paus tersebut dibedah. Dampak secara tidak langsung yang ditimbulkan adalah sampah  plastik mampu mengakibatkan kerusakan terumbu karang. Terumbu  karang berfungsi sebagai habitat bagi organisme lain, oleh karena itu  keberadaan terumbu karang sangat berpengaruh terhadap kehidupan  oragnisme laut yang lain. 


Kabid Ekonomi Pergerakan, Petrus Sape  juga turut bersuara menurutnya "masalah sampah di Indonesia hingga saat ini belum terselesaikan dengan baik." baru-baru  ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) merilis 10 kota terkotor di Indonesia dan  tiga dari 10 kota itu ada di Provinsi NTT. Oleh sebab itu dibutuhkan kerja sama yang baik dari semua pihak baik pemerintah dan masyarakat. 

Petrus juga meminta kepada Seluruh masyarakat kusunya para pengunjung pantai serta masyarakat pesisir untuk menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat   sebab Sampah plastik adalah faktor utama penyebab kerusakan ekosistem  di laut.


"Saya meminta kepada semua untuk menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah di sembarangan tempat, sebab Sampah plastik adalah faktor utama penyebab kerusakan ekosistem  di laut."