Notification

×

Iklan

Iklan

Kadis Kesehatan Sabu Raijua Terima Tim Peneliti Unsoed, BRIN dan Undana, Teliti Pengobatan Tradisional dan Herbal

Kamis, 23 Juli 2026 | Juli 23, 2026 WIB Last Updated 2026-07-23T00:42:35Z

Reporter: Marthen Ga Kore 




SARAINEWS,SABU RAIJUA – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sabu Raijua, Thobias Jusuf Messakh, S.KM, menerima kunjungan tim peneliti dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang pada Hari Rabu,22 Juli 2026 


Kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan penelitian mengenai budaya pengobatan tradisional dan pemanfaatan obat herbal berbasis kearifan lokal masyarakat Sabu Raijua. Penelitian ini akan berlangsung selama kurang lebih 10 hari ke depan.


Kepala Dinas Kesehatan Sabu Raijua, Thobias Jusuf Messakh, menyambut baik kegiatan penelitian tersebut. Ia berharap hasil penelitian dapat memberikan informasi ilmiah yang kredibel mengenai berbagai ramuan dan obat herbal yang selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat.


> “Harapan saya, lewat penelitian seperti ini ke depannya kita bisa mendapatkan informasi-informasi ilmiah yang lebih kredibel dan bisa dipercaya. Sehingga ramuan-ramuan atau obat herbal yang digunakan selama ini, setelah dikaji secara ilmiah, kita tidak ragu akan efek samping dan segala macamnya. Hasil penelitian ini juga bisa menjadi rujukan pengetahuan ilmiah ke depannya,” ujar Thobias.


Dalam kegiatan tersebut, Ketua Yayasan Generasi Peduli Sabu Raijua (GPS), Jefrison Hariyanto Fernando, turut memfasilitasi pelaksanaan penelitian di wilayah Sabu Raijua.


Jefrison mengatakan, fasilitasi tersebut dilakukan karena penelitian mengenai pengobatan tradisional merupakan bagian penting dalam upaya mendokumentasikan kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat Sabu Raijua.


> “Karena riset ini penting, sebagai yayasan kebudayaan kami siap memfasilitasi teman-teman peneliti, sehingga kajian yang dilakukan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Sabu Raijua, khususnya dalam mendokumentasikan pengetahuan dan kearifan lokal yang selama ini diwariskan secara turun-temurun,” ungkap Jefrison.


Sementara itu, Dr. Wiwik Novianti selaku ketua tim penelitian menjelaskan bahwa penelitian tersebut mengangkat tema pengobatan berbasis kearifan lokal pada masyarakat Pulau Sabu.


Penelitian ini dilaksanakan dalam skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Ekspedisi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).


Menurut Dr. Wiwik, Pulau Sabu merupakan wilayah yang memiliki keindahan alam sekaligus kekayaan budaya yang masih terjaga hingga saat ini. Salah satu kekayaan budaya tersebut adalah tradisi pengobatan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.


> “Pulau Sabu merupakan pulau yang sangat indah dan kaya budaya. Masyarakatnya masih melestarikan berbagai tradisi pengobatan yang diturunkan secara turun-temurun, sehingga dibutuhkan sebuah penelitian yang dapat menggambarkan pengobatan tradisional secara holistik. Dengan demikian, pengobatan tradisional berbasis kearifan lokal masyarakat Pulau Sabu dapat dikenal secara luas dan mendorong penghormatan terhadap keragaman budaya Indonesia,” jelas Dr. Wiwik.


Penelitian ini diharapkan dapat menjadi jembatan antara pengetahuan tradisional yang diwariskan masyarakat dengan kajian ilmiah, sehingga kekayaan pengobatan berbasis kearifan lokal di Sabu Raijua dapat terdokumentasi dengan baik dan menjadi sumber pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat maupun generasi mendatang.