Notification

×

Iklan

Iklan

Pandemi dan Mental Health : Isu kesehatan Mental dimasa pandemi

Minggu, 01 Mei 2022 | Mei 01, 2022 WIB Last Updated 2022-04-30T16:28:17Z
Judul Artikel

Pandemi dan Mental Health : Isu kesehatan Mental dimasa pandemi

Foto Penulis : Sindi Sirituka Mahasiswa Program Study Ilmu Kesehatan Masyarakat

Sarainews.Com, Pandemi Covid-19 tidak hanya berefek pada kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan mental. Berbagai permasalahan yang terjadi karena Covid-19, ini dinilai menjadi sumber stress baru bagi masyarakat. 

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sebelum pandemi angka orang dengan gangguan mental menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk, berusia 15 tahun keatas mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia diatas 15 tahun mengalami depresi. Namun, setelah pandemi angka tersebut naik menjadi 5661 orang, yang sebagian besar mengalami depresi selama masa pandemi. Sebanyak 32 % mengalami masalah psikologis dan 67,4 % memiliki gejala cemas, bunuh diri, depresi, maupun sakit psikomatik. Dilaporkan bahwa orang yang mengalami depresi meningkat 35% atau naik 2-3 kali lipat dibandingkan dengan data Riset Kesehatan Dasar 2018.

Masa pandemi terdapat begitu banyak stimulus yang dapat menyebabkan stres. Stress yaitu reaksi seseorang baik fisik maupun emosional (mental/psikis) apabila ada perubahan dari lingkungan yang mengharuskan seseorang untuk menyesuaikan diri. Stres merupakan bagian alami dan penting dari kehidupan, tetapi apabila berat dan berlangsung lama dapat merusak kesehatan kita. Stres ini dapat menyebabkan seseorang menjadi lebih waspada, jika stress dinilai membahayakan maka akan muncul pertahanan diri. Karantina yang dilakukan oleh sebagian besar daerah dan juga dapat meningkatkan perasaan kesepian, ketakutan, akan kerentanan infeksi dari luar, bosan, dan merasa cemas. Ketakutan dapat diikuti oleh orang sekitar sehingga semakin banyak masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan dimasa pandemi. Contoh gangguan kesehatan mental berat yang dapat terjadi adalah gangguan obsesif-kompulsif dan paranoid. Gejala-gejala psikis dapat mengganggu keseharian sehingga seseorang menjadi kurang fokus pada pekerjaan. Adapula permasalahan mental datang dari permasalahan perekonomian yang tidak stabil, sehingga membawa rasa cemas dan takut secara terus-menerus akan keberlangsungan hidup. 

Pandemi yang terjadi tentunya memberikan dampak perubahan bagi hidup masyarakat, dan perubahan status kesehatan mental merupakan hal yang tidak mungkin dipungkiri. Kemampuan adaptasi dan pengelolaan stress individu yang tidak dapat disamakan antar satu orang dengan yang lain, menyebabkan perlunya membiasakan diri untuk lebih memperhatikan kesehatan mental diri sendiri dan orang terdekat kita. Perlu kita ketahui apa saja tanda-tanda stress yang perlu kita perhatikan terhadap orang disekitar kita. Yuk simak:

  • Sulit konsentrasi
  • Mudah tersinggung
  • Nafsu makan kurang/ makan berlebih
  • Sulit tidur/ tidur tidak nyenyak
  • Gelisah, muka pucat dan jantung bedebar
  • Keluhan kepala sakit berlebihan

Jika teman, saudara, tetangga mengalami hal-hal tersebut diatas segera mencari pertolongan dari professional dibidang kesehatan mental, sehingga bisa mendapat penanganan lebih lanjut.

Menghadapi pandemi Covid-19 membutuhkan pemikiran yang jernih sehingga bisa menghadapi masalah baik fisik maupun psikis. Terkait dengan masalah psikis perlu adanya penangan secara khusus. Tetapi sampai saat ini belum semua provinsi memiliki rumah sakit jiwa sehingga tidak semua orang dengan masalah gangguan jiwa mendapatkan penanganan yang seharusnya.  

Setiap orang mempunyai cara masing-masing untuk menghadapi suatu masalah. Salah satu masalah yang kita hadapi saat ini yaitu masalah Covid-19. Yang mana secara umum mengganggu aktivitas dari setiap orang yang membuat kita lebih banyak menghabiskan waktu dirumah, sehingga kita mudah jenuh karena tidak bertemu dan berinteraksi langsung dengan kita teman-teman kita. Hal tersebut dapat memicu terjadinya stress. Beberapa hal yang bisa dilakukan ketika dirumah yaitu ; olahraga dirumah, membuat beden sayur dihalaman rumah, menanam bunga, membaca buku, mendengarkan musik. Dengan demikian kita mempunyai aktivitas yang tidak membuat kita mudah jenuh.

pandemi yang terjadi tentunya memberikan dampak perubahan bagi hidup masyarakat. Perubahan status kesehatan mental merupakan hal yang tidak mungkin dipungkiri. Kemampuan adaptasi dan pengelolaan stress individu yang tidak dapat disamakan antar satu orang dengan yang lain, menyebabkan perlunya membiasakan diri untuk lebih memperhatikan kesehatan mental diri sendiri dan orang terdekat kita, serta tidak menganggap tabu upaya mencari pertolongan dari para pakar psikolog.